KELINGKING

19.2.18

Namaku Reho, aku mencari Kelingking

 Bukan. Bukan jari tapi Kelingking pahlawanku. Pahlawan negeri Jambi. Waktu itu beberapa anak sekolah tidak menyadari keberadaanku. Aku mendengar mereka bercerita tentang pemuda yang terlahir hanya sebesar kelingking. Rakyat Jambi begitu takut akan datangnya nenek gergasi yang suka memakan anak anak. Semuanya sembunyi tapi kelingking begitu cerdik dan berani, ia melawan nenek gergasi seorang diri. Nenek gargasi kalah dan tak pernah kembali. Sayang, aku tidak tau lagi kelanjutan cerita kelingking. Seorang anak melihatku, ia menjerit terkejut lalu mereka semua lari. 

Sekarang aku berada di kabupaten Batanghari. Menurutku Kelingking ada di sini. Setiap hari aku mencarinya bukan tanpa alasan. Nenek gergasi telah kembali. Kali ini ia tidak makan anak – anak, melainkan hati manusia. Aku tidak bohong. Pelajar yang tidak sungguh sungguh belajar dan mengaji. Itulah pelajar yang hatinya dimakan nenek gergasi. Bukan pelajar saja, gergasi licik berdasi juga ada. Hanya manusia dengan hati seperti kelingking yang bisa mengalahkannya.

Aku sudah memberitahu warga. Tapi mereka tidak pernah percaya. Aku mencari kelingking, tapi diberi telunjuk miring. Orang – orang bilang aku sinting, mereka selalu menjerit dan berlari setiap melihatku. Jangan khawatir aku sama sekali tidak terganggu dan tidak pernah mengganggu. 

Namaku Reho, dan aku mencari Kelingking.

***  

Tulisan ini terinspirasi dari cerita rakyat Jambi dan seseorang yang selalu berjalan, dan menurut saya ia telah mengelilingi satu kawasan lebih banyak dari jumlah penduduknya yang waras. Ia sebenarnya tidak mengganggu namun dihindari banyak orang. Saya selalu penasaran, apa yang ia pikirkan dalam setiap langkah dan pandangannya. Mentalnya mungkin tidak lagi sehat, tapi saya yakin ada satu hal yang membuatnya lebih sering berjalan daripada mengamuk, Barangkali itu sepenggal memori atau tujuan yang tidak kita pahami. Barangkali.




~popy 

You Might Also Like

0 comments