Mak Wo dan Payung Merah

22.2.18


Bila seseorang yang kau sayangi pergi selamanya, sedih dan sesal seketika menghampiri. Saat mulut bungkam menahan tangis, maka tulisan ini barangkali bisa mewakili semua permohonan maaf, ungkapan terima kasih dan doa yang tidak terucap di saat terakhir.

10 Juli 2015

Selepas maghrib, semua panik saat Mak Wo kembali mengeluh sakit. Ia selalu mengeluarkan apa saja yang dimasukkan dalam mulutnya. Tidak ada obat apapun yang bereaksi mengurangi rasa sakitnya. Menjelang tengah malam Mak Wo diberi obat lain, syukurnya ia sudah lebih baik. Malam itu kami semua tidak tidur, kami saling bercerita dengan Mak Wo hingga waktu sahur. Mendengar cerita dan senda gurau, Mak Wo tertawa geli, itu pertama kalinya ia tertawa begitu sering dalam dua bulan terakhir. Saya sangat senang, saya yakin Mak Wo akan sembuh lantas untuk apa menangis.

Belum tiga jam tertidur, saya terbangun. Semua keluarga kembali khawatir, nafas Mak Wo sesak dan lemah. Mak Wo dibawa ke RS Jumat pagi dan menghembuskan nafas terakhirnya pukul 2 siang. Saya mendengar berita duka lewat telepon, dengan suara parau ibu berpesan untuk mengikhlaskan kepergian beliau. Pelupuk mata yang sedari tadi memanas akhirnya basah oleh air mata. Tetangga berdatangan, mereka akhirnya yang membereskan rumah serta membantu mengurus pemakaman.

Setelah disholatkan Mak Wo dibawa ke kampung halaman. Hampir seluruh keluarga pergi, saya tetap tinggal. Ditemani bibi dan dua sahabat, saya berusaha membereskan banyak hal. Kesedihan ini harus dialihkan, tapi pada akhirnya ketika semua sudah dibereskan, kesedihan tetap tinggal. Saya tidak bisa menyapunya. Hanya waktu dan keikhlasan yang mampu membuatnya pergi.
***

22 Februari 2018

Untuk nenek yang saya panggil Mak Wo, terima kasih.
Saya paham, engkau lebih senang didoakan ketimbang dituliskan. Mak Wo, terima kasih telah diam–diam berjalan cepat di tengah hujan untuk membeli payung di warung, padahal Mak Wo sendiri kehujanan, senyumnya tetap merekah meski jilbabnya basah. Saya ingat beliau membeli payung merah agar saya bisa pergi penelitian ke sekolah. Saya tahu ia akan membantu apa saja agar kuliah saya selesai. Sepanjang jalan saya menangis, ada haru yang begitu hangat dalam diri. 

Untuk Nenek yang saya panggil Mak Wo, jangan khawatir.
Karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kakimu yang luka dan nyaris membusuk tidak akan menyakitimu lagi. Anak cucumu di sini baik-baik saja. Saya percaya, nasehat dan kebaikan Mak wo akan memayungi kami, anak cucunya yang berjuang melanjutkan hidup.





~popy  

You Might Also Like

0 comments