Media Sosial dan Si Peniup Seruling

16.2.18



Ada beberapa versi cerita peniup seruling dari Hamelin tapi benang merahnya tetap sama kok, nah ini salah satunya. 

Tujuh ratus tahun yang lalu, ketika kota Hamelin yang indah terkena bencana hama tikus, seorang pria berpakaian aneka warna datang. Orang asing itu berjanji kepada walikota bahwa masalah hama di kota tersebut akan terpecahkan. Sebagai gantinya, walikota berjanji akan memberi imbalan jika upayanya berhasil.

Setelah perjanjian disepakati, lewat tengah malam tepat saat bulan purnama orang asing itu memainkan serulingnya. Ia memainkan nada yang aneh dan magis. Suara seruling tersebut memikat para tikus di setiap rumah penduduk. Awalnya sepuluh tikus, lalu dua puluh, lima puluh hingga ratusan tikus keluar mengikuti si peniup seruling sampai ke sungai Weser. Semua tikus pun ditenggelamkan di sana.

Semua penduduk yang menonton dari jendela dan balkon merasa takjub. Setelah usaha pria itu berhasil, sang walikota tidak menepati janjinya. Si peniup seruling meninggalkan kota dan mengingatkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Pada suatu hari, ketika para penduduk dewasa berkumpul di gereja dan anak –anak bermain di halaman, si peniup seruling kembali lagi dan meniup serulingnya. Nada yang dimainkan sangat aneh dan tidak pernah terdengar sebelumnya. Anak – anak pun berhenti bermain dan berlari dengan penuh tawa mengikuti suara seruling di sepanjang jalan. Semua anak berlari mengejar suara tersebut, mereka takut kehilangan suara yang menyenangkan itu.

Hanya dua orang anak yang tetap tinggal, anak pertama adalah anak yang pincang, ia tidak dapat berlari mengikuti peniup seruling dengan cepat. Anak kedua adalah anak yang buta, ia tidak mampu melihat kemana peniup seruling pergi. Mereka yang menceritakan kejadian tersebut kepada orang dewasa. Sejak saat itu, anak – anak yang mengikuti suara seruling tidak pernah kembali, mereka tidak pernah terlihat lagi. 

***
Media sosial layaknya peniup seruling dan kita adalah penduduk kota Hamelin. Media sosial mampu memberikan kita pengalaman yang tidak pernah ada sebelumnya, semua orang tersihir oleh pesona seruling bernama teknologi. Media sosial dengan serulingnya telah mengeluarkan ratusan ‘tikus’ yang menjadi hama di masyarakat.

Tapi jangan senang dulu, karena tidak semua tikus terlihat seperti tikus. Yang bukan tikus bisa menjadi tikus lalu ditenggelamkan, lalu yang jelas–jelas tikus malah diselamatkan. Itulah kedahsyatan peniup seruling bernama media sosial.  Jangan lupa ada kesepakatan dibalik setiap nada yang ditiup. Kesepakatan itu tidak sesederhana yang dibuat walikota dengan peniup seruling dari Hamelin. Terlalu banyak intrik dan begitu rumit.

Satu hal yang tidak berubah adalah kesepakatan itu seringkali dilanggar. Hati–hati. Peniup seruling akan kembali dan membawa semua anak–anak pergi. Sungguh. Setelah terbuai teknologi, anak–anak lupa bagaimana seharusnya menjadi anak–anak. Setelah mendengar apa yang ‘ditiup’ media sosial, orang dewasa tidak peduli soal bersikap dewasa. See, Satu persatu mereka berlari mengikuti peniup seruling. Mereka yang tidak terpengaruh oleh hiruk pikuk di media sosial dianggap pincang atau buta.

Begitulah. Di dunia yang begitu bising, jangan memuja peniup seruling. Karena saat suaranya berhenti, kau baru tau betapa banyak kau tertipu. Di dunia yang tak kenal hening, suara–suara aneh membuatmu makin sinting. Jangan khawatir, selalu ada satu suara yang menuntunmu pada kebenaran. Ya, Cuma satu. Cobalah matikan televisi atau gawai lainnya, bebaskan telinga dan hatimu dari hiruk pikuk dunia. Lalu dengarlah, sadarilah bahwa Dia memanggilmu bukan hanya lima kali, melainkan setiap waktu dari berbagai penjuru

Selamat mendengarkan.





~popy 

You Might Also Like

2 comments