Secangkir Kopi dan Sederet Kekeliruan

17.2.18


 




Aku mengenalnya akhir tahun lalu. Jika biasanya perlu usaha ekstra drama untuk sampai pada pertemuan yang disebut kencan. Pertemuan kami setelahnya terjadi begitu saja karena kami sepakat bahwa setiap pertemuan bukan kencan melainkan kebutuhan. 

 Ya. Kebutuhan bukan kencan, itu sebabnya kami bertemu hampir setiap hari. Aku menemaninya selama yang dibutuhkan. Dan sebagian besar pertemuan kami nyaris tanpa obrolan. Perempuan itu tenggelam dalam benaknya selama berjam–jam selang beberapa menit setelah menyapaku. Kadang ia membaca buku kadang menulis sesuatu. Aku hanya mengamatinya dan menunggu. Aku tidak pernah bosan, sungguh. 

 Apa kau mulai berpikir aku bohong? Baiklah aku mengaku. Ada sedikit kebohongan karena aku memang merasa bosan dan sempat timbul keinginan untuk mencari perempuan lain. Hanya saja aku memilih untuk bertahan. Bukan tanpa alasan, tapi itu akan kuberitahukan padamu nanti. 

Tempat favoritnya sebuah meja kecil di samping jendela. Tidak ada buku kali ini hanya beberapa lembar kertas dan pensil. Ia menyapaku dan tersenyum singkat. Lalu kembali tenggelam dalam pikirannya sebelum aku sempat balas menyapa. Perempuan itu menulis lalu banyak mencoret. Kadang hanya satu kata kadang beberapa kalimat lalu menulis lagi. 

Oya, hari ini ulang tahunnya, aku akan bertahan bahkan sampai hari ini berakhir. Meski itu berarti aku hanya duduk, menunggu dan diam membisu. Dua jam kemudian, perempuan itu meletakkan pensilnya. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata. 

“Aku merasa akan meledak. Aku tidak membaca karena itu hanya akan membuat kepalaku penuh sesak. Aku ingin mengeluarkannya lewat tulisan tapi setiap kata justru membuatku tersedak. Bisakah kau membantuku?” 

Aku terkejut dengan pertanyaannya yang mendadak. Sekian lama aku menemaninya tanpa banyak kata. Ini pertama kali ia ingin aku membantunya. Masalahnya tidak banyak yang kuketahui tentang perempuan ini kecuali empat hal berikut; 1) aku tahu ia suka puisi karena ia sering membacakannya untukku, 2) aku tahu ia sedang berusaha melarikan diri setiap kali ia membaca buku, 3) aku tahu ia berulang tahun karena ia mengatakannya kemarin, dan 4) aku tahu bahwa aku tidak tahu apapun tentang perempuan ini selain dari tiga hal itu. 

Apa yang sebenarnya kau simpan? Aku ingin bertanya namun aku terlalu takut untuk bersuara. 

“Terlalu banyak kekeliruan.” jawabnya lirih

Astaga. Perempuan itu seolah membaca pikiranku, ini kejutan kedua. Ia memandang keluar jendela, aku tahu masih ada yang mengganggunya.

“Sebelumnya aku tidak pernah minum kopi. Aku tidak memiliki kesukaan khusus pada minuman tertentu. Tapi berkat seseorang aku tergoda untuk mencoba dan tak kusangka aku menyukainya. Sejak saat itu aku membutuhkan kopi setiap hari. Kopi membuat segala yang ada di diriku jadi lebih baik. Saat itu aku merasa bahwa aku penikmat kopi sejati.” Perempuan itu tersenyum, tapi sorot matanya begitu sendu.

 “Aku tidak pernah melihat pohon kopi, aku tidak tau bagaimana biji kopi diproses menjadi bubuk kopi yang siap diseduh. Kopi yang selalu kuminum cuma kopi kemasan yang dijual di warung. Mengaku sebagai penikmat kopi sejati, bukankah itu memalukan? Aku berhenti minum kopi dalam waktu yang cukup lama. Tentu saja aku keliru. Tidak harus tau sejarah kopi untuk bisa menikmatinya. Dengan mensyukuri secangkir kopi yang ada dihadapanku maka itu cukup, tidak peduli itu kopi kemasan sekalipun. Lucu, butuh waktu lama bagiku untuk menyadari hal sederhana itu. Aku memutuskan untuk kembali minum kopi. Namun yang tidak kumengerti adalah bagaimana kopi yang sama tapi rasanya berbeda?” Perempuan itu masih memandang ke luar jendela. 

Aku justru tidak mengerti kenapa menikmati kopi bisa demikian rumit. Ingin kutanyakan padanya kopi mana yang ia sukai tapi belum saatnya aku mengganggu dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Aku menyukai kopi yang sebelumnya.” ucapnya pelan.

Kejutan lagi, bagaimana ia melakukannya heh? aku bahkan tidak mengatakan apa-apa. Kalau begitu tidak ada lagi pertanyaan, aku akan membantunya tanpa suara.  

Aku mengerti sekarang. Kau merindukan rasa kopi yang dulu. Cobalah menikmati kopi yang sama dengan cara yang sama, barangkali cita rasa yang kau cari akan hadir. 

Perempuan itu menatapku dengan raut wajah yang tidak ku mengerti. Aku khawatir bisakah ia memahami pikiranku kali ini.

“Itulah yang aku coba lakukan bersamamu selama ini. Dan sepertinya cara ini tidak berhasil. Aku keliru lagi, rindu tidak seperti kopi. Secangkir rindu hanyalah cangkir kosong. Sebanyak apapun kopi yang kuhabiskan untuk mengisinya, cangkir itu akan selalu kosong. Kau tau, tidak ada yang bisa mengambil kembali apa yang sudah dicuri oleh waktu. Bahkan kopi sekalipun. Kopi hanya mengembalikan kenangan. Aku tak pernah tau rindu demikian haus akan kenangan. Tapi aku tidak ingin menjadikan kopi sebagai pengasuh, bagaimanapun rindu harus mengurus dirinya sendiri. Semoga kali ini aku tidak keliru lagi.” tuturnya.
***
Sebelas minggu berlalu dan kami tidak pernah bertemu. Tidak pernah ada manusia yang menyapa cangkir kopi dengan hangat seperti yang ia lakukan padaku. Itu sebabnya aku bertahan menemaninya. Aku adalah cangkir kopi favoritnya.

Butuh waktu lama hingga aku menyadari bahwa pertemuan kami adalah ritual dan aku hanya atribut. Selama ini aku hanya perantara untuk setiap rindu dan kenangan rasa di masa lalu yang gagal ia jemput. Aku keliru mengira perempuan itu merindukan kopi. Bukankah jelas sekali bahwa ia merindukan orang yang membuatnya menyukai kopi.

Sebelumnya aku tidak pernah menyukai kopi, tapi berkat perempuan itu aku menyukainya. Sebelas minggu terakhir aku selalu ‘diisi’ kopi yang sama tapi entah mengapa rasanya berbeda. Aku merindukan perempuan itu. Aku tidak tau apa cangkir sepertiku pantas merasa begitu. Aku tidak tau sejarah apalagi filosofi kopi. Setahuku hati yang membuat rasanya berubah. Wahai manusia pecinta kopi, katakan padaku siapa yang keliru kali ini. Aku, kopi atau rindu?



~popy 


You Might Also Like

0 comments