SQUIDWARD

28.2.18




Setelah resign saya bertekad segera menyelesaikan tesis sambil membantu usaha keluarga. Kami punya warung makan kecil di pinggir jalan. Orang tua saya menyerahkan urusan keuangan untuk ditangani, itu sebabnya saya lebih sering berada di balik meja kasir daripada melayani pembeli. 
Saya selalu diingatkan agar lebih ramah ketika jualan. Namun ketika mood jelek, saya tersenyum kaku dan mengucapkan terima kasih dengan pelan. Saya mestinya mencontoh Spongebob, pegawai teladan di Krusty Krab. Alih-alih ceria, saya sering pasang tampang jutek seperti Squidward. Bedanya saya gak punya tentakel. Untuk mengontrol mood swing saya menyibukkan diri dengan membaca, menulis, ngemil, atau sibuk mikirin hal-hal gak jelas alias melamun. Untungnya semua aktivitas saya tersembunyi di balik meja, pembeli hanya melihat bagian kepala saja. Setelah mendekat baru ketauan kalo saya nonton drama korea. Upss.

Belakangan ini hujan turun lebih sering, saya jadi lebih banyak santai. Setiap kali warung sepi orang tua saya menyikapi dengan baik. Mereka mengeluh sesekali tapi tetap produktif. Mereka tidak suka berdiam diri. Sedangkan saya lebih suka duduk ngelamun di meja kasir, harus ada yang jaga warung kan?.

Kedatangan Maret menggenapkan bilangan hari yang sudah terlewatkan. Dua bulan berlalu dan masih slow progress. *Sigh. Laptop saya bisa ditumbuhi kecambah gara-gara jarang dijamah. Saya mungkin tidak belum melakukan sesuatu yang layak dituliskan atau menuliskan sesuatu yang layak dibaca. Postingan ini misalnya, isinya tidak lebih dari curhatan pedagang yang lagi bosan tapi jika saya tidak menuliskannya, maka saya akan lebih buruk dari gurita hijau yang tukang ngeluh itu. 



~popy

You Might Also Like

0 comments