TOMOE GAKUEN

18.2.18


http://aminoapps.com/page/japan/697533/totto-chan-the-little-girl-at-the-window



Setelah tiga tahun menjadi guru honorer akhirnya pada Desember 2016 saya memutuskan untuk resign. Seseorang pernah berkata bahwa tempe yang membusuk gak bakal tumbuh lagi jadi kedele. Jadi tidak ada gunanya membahas tepat atau tidak keputusan tersebut. Life must go on. Meski sebentar, saya bersyukur punya pengalaman mengajar. 

Suatu hari seorang kerabat minta pendapat saya perihal sekolah mana yang paling baik untuk anaknya. Saya langsung jawab Hogwarts.  
"Kenapa?" ujarnya sewot
"Karena di sana ada Dumbledore" saya senyum bangga. "Kepala sekolah terbaik sepanjang sejarah sihir" nyengir lebar.
"Loh bukannya Dumbledore itu sudah mati ya?" sahutnya tanpa dosa
langsung lempar batu dan teriak "AVADA KEDAVRAAA!!!" 
 
See, ide sekolah di Hogwarts berujung kutukan maut. Sebenarnya ada satu sekolah kece yang saya ingat yaitu Tomoe Gakuen. Berhubung saya belum menemukan sekolah yang serupa di sini. Alhasil saya merekomendasikan sekolah tempat saya mengajar. Ya iyalah yaa. Bukan tanpa alasan, sampai saat ini memang sekolah tersebut masih jadi sekolah unggulan.

Bagi yang sudah membaca buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela mestinya inget sama sekolah yang luar biasa ini. Pada tahun 1937, Sosaku Kobayashi mendirikan Tomoe Gakuen. Sekolah yang kelas-kelasnya terdiri dari gerbong kereta. Metode pengajaran di Tomoe Gakuen membuat saya berpikir ulang tentang teori-teori mengajar yang selama ini saya pelajari. Misalnya setiap siswa bebas memulai pelajaran dengan sesuatu yang mereka sukai. Mau berhitung dulu baru bahasa jepang. Atau membaca dulu baru mengarang. Tidak seperti sekolah pada umumnya yang terikat kaku pada jadwal KBM. Apalagi? Sila baca sendiri. Saya gak mau spoiler.

Totto-chan beruntung pindah sekolah ke Tomoe Gakuen. Totto-chan sangat menghormati sosok Sosaku Kobayashi sebagai kepala sekolah, guru sekaligus teman. Saya terkesan bagaimana seorang kepala sekolah mau mendengarkan ocehan murid baru selama empat jam diruangannya. Biasanya anak-anak yang harus mendengarkan orang dewasa selama berjam-jam.

Sayang sekali sekolah ini terbakar akibat serangan bom di tahun 1945. Sosaku Kobayashi membangun sekolah itu dengan uang pribadi, sehingga sulit untuk membukanya kembali. Di Indonesia memang ada sekolah yang memanfaatkan gerbong kereta sebagai ruang kelas. Tetapi kesamaan fisik sekolah saja tidak cukup bukan?. Saya yakin di luar sana ada banyak kepala sekolah hebat seperti Sosaku Kobayashi. Jika nanti berkesempatan untuk mengajar lagi. Saya berharap bisa menjadi bagian dari sekolah yang luar biasa seperti Tomoe Gakuen.




~popy 

You Might Also Like

0 comments