AIR MATA PUISI

2.3.18



Puisi terlahir yatim piatu. Setiap kata yang tercipta ialah rengekan sendiri yang diramal tanda tanya. Diksi berupa seorang laki-laki malang dan seekor kucing yang sudah lama tidur atau jangan-jangan mati. Memang tak sempat menyusun abjad ketika adzan dilafazkan di telinganya.
Siapa yang peduli menanyakan namanya selain aku? Tiada.

Jeda hanyalah senyum sesekali selepas malam yang disambut embun kadang-kadang. Namun malam ini dingin, sangat dingin. Menggigil tulangnya memanggil ibu. Lihatlah anakmu ibu! Memeluk tangan sendiri kuat-kuat. Tiada selimutkah yang pernah kau rajut untuknya? Nan sudi memeluk tubuh kumuh dan kepiluan tanpa suara.

Dari surga, puisi mendengar. Peluklah kesedihan dan bayang-bayang cahaya lilin yang meredup. Doa membelai lembut hatimu yang kokoh. Jangan menangis sayang, jangan menangis. Kenallah Tuhan kenanglah Tuhan. DariNya sungguh setiap cinta mengekal.

Lalu, apakah kau masih merasa sendiri dan kedinginan?
Tiba-tiba sepasang mataku panas, puisi ini basah.



You Might Also Like

0 comments