PERIHAL RINDU YANG LUPA WAKTU

6.3.18


Semoga tidak terlalu pagi untuk mengajakmu bicara, sebab gusar bila harus menyudahi malam lalu menanti mentari datang bertamu. Sedang malam ingin lama dan masih meninggalkan bayang di sini. Ia mencemaskan rinai yang tak kunjung usai atau gaduh melihat waktu yang akhir akhir ini suka tidur dan pemurung. Barangkali kau bisa menyalahkan cuaca atau menyalahkan dirimu sendiri yang lengah.

Sejujurnya mengejamu lebih sukar dari sekedar mengarak ribuan awan pada ibunya. Aku menemukan kata katamu selalu bermuara pada fasih jemari yang menuliskan namamu di bawah puisi ini. Derap langkahmu menjadi syair yang dikagumi perempuan dan kepalanya. Yang diiringi jeda sebagai helaan nafas ketika ragu akan berhenti atau kadang lebih ingin melanjutkan.

Sungguh tak ingin mencampuri segalamu. Lancang sekali bila harus kupaksa kau berbicara. Namun keegoanku menuntut puisi ini berjalan kearahku. Sebab sebait pertemuan telah menjelma sebagai doa yang tak akan pernah berhenti. Aku akan melindungi kepalamu dari rinai, hingga kelak di bilangan yang sedemikian hingga, waktu tak lagi tidur, waktu tak ingin murung. 


You Might Also Like

0 comments