Back to School

23.7.18



Sekian lama tidak peduli akan bilangan hari. Akhirnya saya merasakan (lagi) bedanya weekdays dan weekend. (Sayangnya akhir pekan kali ini justru disuguhi period pain yang kadar nyerinya membuat saya ingin membelah diri). Pertengahan Juli tahun ini saya kembali ke sekolah, kembali mengajar. Tepat tiga semester setelah resign, saya benar-benar terkejut menyadari betapa kepercayaan diri saya sebagai guru sudah berkurang begitu banyak. Bekal pengalaman mengajar di empat sekolah sebelumnya seolah tidak cukup untuk menghilangkan perasaan canggung dan khawatir.

Tidak mudah mengajar di sekolah almamater sendiri. Sebagai alumni tentu saja saya cukup familiar dengan sebagian guru dan lingkungan sekolah. Hal tersebut cukup membantu sebenarnya, tapi tidak ada jaminan bahwa semua berjalan lancar tanpa masalah. Kompetensi sosial saya benar-benar di uji. Rasa hormat dan simpati saya pada guru seringkali digoyahkan oleh opini publik. Awalnya tentu ada rasa kecewa ketika mengetahui fakta yang kurang menyenangkan. Tapi saya paham betul sekalipun guru adalah pekerjaan yang mulia, namun guru tetaplah manusia. Saya tidak boleh begitu saja melupakan jasa mereka hanya karena semua orang mengungkap sisi buruknya. Ketika menjadi siswa, saya dibekali oleh guru berbagai ilmu untuk menjadi manusia. Setelah menjadi rekan kerja, saya belajar langsung dari guru seperti apa manusia.

Kembali ke sekolah, kembali berinteraksi dengan banyak manusia menjadi tantangan tersendiri apalagi bagi saya yang cenderung egois individualis. Tidak ada gunanya terlalu peduli dengan opini publik. Pada akhirnya tanggung jawab dan kewajiban sebagai gurulah yang diutamakan. Meskipun sulit untuk tidak memihak,  lebih baik teguh dengan penilaian sendiri daripada tunduk dengan label yang didiktekan orang lain. Sungguh opini publik itu layaknya tali, jangan mau jadi kambing yang pasrah digiring kesana kemari.

Nah bagi kamu yang juga sedang beradaptasi di lingkungan baru, semoga bisa menyesuaikan diri dan bertahan tanpa berubah jadi ‘kambing’. Jangan mau terjebak lalu mengkambinghitamkan lingkungan sosial yang busuk. Tidak ada tips khusus, dalam kasus saya, seorang teman memberi saran yang sangat bijak “Tak usah banyak begunjing kau, cukup pikirkan tesis mu itu, selesaikan segera!” 


https://www.instagram.com/ikobook.popy/

You Might Also Like

2 comments