GOOD JOB, MY FRIEND!!!

29.8.18



Percakapan dengan kawan lama selalu memberi kesan tersendiri. Setelah chat panjang kami usai, saya menyadari bahwa ada pola yang sama tiap kali kami bertukar pesan. Apapun topik yang mengawali akan diiringi dengan cerita nostalgia,  keluhan tentang pekerjaan, lalu diakhiri dengan “Amin” yang banyak perihal jodoh. Misalnya gosipin artis korea-nostalgia-pekerjaan-jodoh. Bahas harga cabe-nostalgia-pekerjaan-jodoh. Sesekali bincang soal buku-nostalgia-pekerjaan-jodoh, dst. Begitulah kawan, obrolan perempuan lajang di penghujung 20an kadang bisa begitu membosankan.

Hingga tadi seorang teman menelpon saya dan bercerita betapa ia kecewa dan hampir putus asa. Desah nafasnya terdengar berat dan lelah. Ia mengeluh tentang bagaimana orang-orang di sekitarnya menyudutkan dengan pertanyaan bahkan komentar pedas tentang statusnya yang pengangguran. Saya gak habis pikir orang paling produktif yang saya kenal kok dianggap nganggur. Meski tidak bekerja di lembaga pemerintahan/swasta, temen saya ini tidak pernah leyeh-leyeh. Ia selalu bangun pagi, mengambil alih semua pekerjaan rumah tangga sambil mencari penghasilan tambahan entah itu mengajar, jualan online dsb. Sungguh, saya tidak pernah iri dengan orang pintar tapi saya selalu kagum pada mereka yang rajin. Saya justru malu karena dulu setelah resign boro-boro bangun lebih pagi, saya suka begadang gak karuan, menunda pekerjaan rumah, pokoknya sloth mode on. Tidak produktif, hidup lamban kayak kukang. Sekarang pun masih sulit merubah kebiasaan buruk itu.

Saya tau tidak mudah menjadi perempuan yang bekerja tanpa 'seragam', sarjana pula. Itu sebabnya saya ikut geram dan marah mengetahui begitu picik, kejam dan sotoy-nya manusia menghakimi orang lain. Penulis novel metropop favorit saya pernah posting bahwa ada empat macam tipe orang berdasarkan bobot omongannya, 1)orang penting yang omongannya juga penting, 2)orang penting tapi omongannya tidak penting, 3) orang tidak penting tapi omongannya penting dan 4) belatung bermuncung yang asal mangap. Jadi kawan, anggap saja saat ini kamu sedang melewati got yang penuh belatung berisik dan busuk. Sayang, saya tidak bisa membantumu membungkam muncung-muncung nyinyir itu.

Mumpung masih muda dan sehat, bekerja dan berkaryalah. Selagi halal pekerjaan apapun sama mulianya. Seragam tidak penting. Asalkan setelah bekerja kau tidak lupa memijat kaki ibumu yang kian menua, tidak lupa rasanya jalan pagi dan olahraga, tidak lupa tersenyum saat menyapa tetangga, tidak lupa Tuhan dan agama. Sudah terlalu banyak orang gila kerja lalu lupa keluarga, lupa olahraga, lupa tetangga, lupa diri, lupa agama, lupa ini, lupa itu, lupa semua. Semakin sukses karirnya semakin parah lupanya. Jika demikian pekerjaan tak ubahnya bom waktu. Begitu meledak mampuslah kau!!!

Ada yang bilang  jika kita belum sukses, nasihat yang kita sampaikan tak ubahnya kentut. Beda kalo udah sukses, kentutmu pun dianggap bijaksana. Saya maklum jika ada yang tidak sepakat. Kalau menurutmu seragam lebih penting dan apa yang saya tulis ini hanya omong kosong. Ya bagimu urusanmu bagiku urusanku. Postingan ini adalah bentuk dukungan saya pada kawan yang sudah memberikan usaha terbaiknya dalam mencari rezeki. Nah, kawanku saya tau seberapa tekun kamu berusaha. Saya tau bahwa kamu jauh lebih tangguh dan dewasa. Saya tau kamu juga giat bekerja seperti mereka yang pakai seragam pemda, bahkan mungkin lebih baik. Abaikan belatung bermuncung yang melukai hatimu, jangan menyerah dan bersedih.  


Semangat!!


https://www.instagram.com/ikobook.popy/








You Might Also Like

0 comments