Manusia 'Sumbu Pendek'

3.8.18




Suatu ketika senior yang menurut saya level sabarnya jauh di atas saya bertanya, “Salah gak kalo saya meluapkan uneg-uneg di sosial media?” Astaga kakak ini bertanya pada orang salah. Jawaban saya boleh-boleh saja. Barangkali karena saya akrab dengannya jadi saya yakin betapapun jengkelnya, beliau bisa mengontrol apa yang dia tulis. Beda kalo yang bertanya adalah orang yang kurang disukai, pasti saya bakal jawab sinis “Duh. Norak kali kau mencak-mencak di pesbuk, macam abege alay labil saja” 😂😂

Sebenernya tidak ada larangan untuk meluapkan isi hati di sosial media, Cuma emang mesti hati-hati sama isi postingannya. Sebisa mungkin hindari menuliskan sesuatu yang menyinggung SARA, apalagi tulisan yang sifatnya mengadu domba dan memicu konflik. Idealnya sih kita mestinya posting yang baik-baik, yang bermanfaat bagi orang banyak, terus kalo ada masalah ngadunya sama Allah SWT bukan curhat menye-menye. Well, semua orang juga tau idealnya begitu, tapi kita saya Cuma manusia yang kurang sabar, gampang ngeluh, dan cepat marah.

Saya sendiri tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa apalagi amarah. Konon menyembunyikan kekecewaan itu tidak semudah menyembunyikan upil di bawah meja. Beberapa hari yang lalu misalnya, saya sangat sebal dengan perangai teman yang pelit ilmu kompetitif. Setelah menerima chat yang bikin gondok itu, saya langsung ‘muntahkan’ semuanya di sosmed. Saya tidak sebut nama atau tag orang yang bersangkutan bukan karena saya baik, justru karena menurut saya jenis postingan ‘no mention’  itu yang paling nusuk sekaligus paling aman. Saya pikir sebatas sindiran aja masih okelah. Entah itu menyindir dengan quotes kebarat-baratan, pake pepatah dalam bahasa daerah atau sebatas emoticon.

Selesai posting alih-alih lega saya justru makin panas. Saya lupa kalo di luar sana ada banyak orang yang kepo dan baperan, postingan saya ternyata menusuk banyak pihak. Mulai nih ada yang japri nanyain,  “kenapa postingannya bgitu?” atau “ini maksudnya aku ya?”, ada juga yang hobi nebak “oh pasti gara-gara si A kan?” mending kalo tebakannya bener, yang celaka kalo asal tebak, asal nuduh trus diomongin kemana-mana kan jadi fitnah. Ketika saya mengklarifikasi perihal postingan tersebut (brasa jadi artis), ada yang cukup dijawab dengan singkat, ada yang paham dan memberi nasehat. Tapi tidak sedikit yang berujung pada cerita panjang. Kenapa? karena setan mulai menyalakan kompor. Siapa sih yang gak seneng kalo lagi marah trus ada yang mendukung, apalagi sedang panas-panasnya makin merasa paling benarlah dibuatnya. 😈

Selanjutnya sudah bisa ditebak, obrolan kian melebar, mulai ungkit-ungkit masalah yang lama dan tanpa kami sadari setan terbahak karena tipu dayanya berhasil lagi.  Saya pikir saya udah marah dengan cara yang elegan, preetttt. Siapa kira sedikit percikan amarah yang saya posting di sosmed justru membuat saya menyantap bangkai temen saya sendiri. Pada akhirnya saya enggak lebih baik dari abege norak yang suka drama di sosmed. Saya tidak lebih baik dari orang yang saya gunjingkan tadi.

So, menurutku marah di sosmed lebih banyak buruknya daripada efek leganya. Bukan berarti tidak boleh sama sekali, terlalu menahan diri lalu memendam semua rasa dalam hati juga tidak baik buat jiwa.  Menyimpan prasangka dalam hati layaknya menyimpan duren dalam lemari. Suka atau tidak tetap tercium dan kepikiran. Lebih baik dikeluarkan durennya, keluarin uneg-unegnya, kupas dan nikmati bersama. Kalo kelamaan keburu busuk, ntar yang tersisa Cuma duri. Menyimpan amarah seperti menyimpan satu lusin bom kotoran (penggemar Harry Potter coy), nah kalo memendam cinta gimana, yaaaa tak perlulah kita analogikan. Kau ungkapkan segera, lalu temui bapaknya, habis perkara. 😉😉

Kalau kamu udah bisa mengendalikan diri dan bijak menggunakan sosial media, good for you. Bagi manusia sumbu pendek macam saya ini mesti usaha ekstra biar tidak gampang tersulut. Yok saling mengingatkan dan sebisa mungkin jangan terlalu cepat menghakimi orang lain. Apa yang saya tulis juga tidak semuanya benar (kayak pernah nulis yang bener aja). Maafkeun jika postingan kali ini sangat bias dan ngawur.


~ Mischief Managed


https://www.instagram.com/ikobook.popy/




You Might Also Like

0 comments