PERI RUMAH

26.8.18



Percakapan singkat beberapa hari yang lalu,
“Pop, minggu ini bisa kumpul nggak? Sekalian nengokin Uni yang baru lahiran.” Ujar seorang teman
“Jangan minggu lah, itu harinya saya jadi peri rumah.”
“Peri rumah? Maksudnya tinkerbell!” Sahutnya
“Bukan, peri rumah itu kayak Dobby-nya Harry Potter” jawabku setengah geli setengah sedih
“HAHAHA....”

Bagi yang tidak pernah baca atau nonton Harry Potter mungkin bingung apanya yang lucu. Istilah peri selalu menghadirkan image yang cantik dengan kekuatan magis. Sedangkan peri yang saya maksud jauh dari kata cantik. Peri rumah adalah mahkluk yang melayani penyihir dengan setia. Mulai dari urusan rumah tangga seperti masak, berbenah hingga melakukan tugas dengan taruhan nyawa. Bagi peri rumah membicarakan aib majikannya adalah hal yang tabu, mereka harus tunduk dan melindungi kehormatan sang majikan dan keluarganya. Jika berbuat salah peri rumah harus menghukum diri sendiri, menyetrika jari-jari mereka misalnya.  Meski begitu mereka bekerja dengan bahagia, merasa mulia jika dibutuhkan namun merasa terhina jika diberi upah. Itu sebabnya memberikan sepotong pakaian entah itu baju baru atau kaus kaki kotor berarti memecat peri rumah.

Dengan kesetiaan seperti itu, saya ragu ada yang mau memecat peri rumah. Kecuali ada kesalahan fatal, peri rumah dan keturunannya hanya melayani satu keluarga penyihir sepanjang masa. Tapi Dobby adalah pengecualian, ia peri rumah yang merdeka. Dobby berani melawan majikannya yang zalim. Dobby mencari pekerjaan dengan gaji. Tidak mudah memang. Bagi masyarakat sihir, peri rumah adalah budak. Tidak ada penyihir yang sudi menerima peri rumah yang minta gaji. Untungnya ada Dumbledore, kepala sekolah yang bijak. Dumbledore mempekerjakan Dobby di dapur Hogwarts. Ada puluhan peri rumah di sana namun Dobby satu-satunya yang menerima upah satu galleon (mata uang sihir berupa kepingan emas) per bulan.

Kisah Dobby tidak akan kamu dapatkan dengan lengkap jika hanya menonton Harry Potter. Jika kamu membaca dengan utuh, maka kamu akan tau betapa buruknya keluarga Malfoy memperlakukan Dobby. Pemberontakan Dobby bukan tanpa alasan, ia tidak mengingkari kodratnya sebagai peri rumah karena ingin lebih berkuasa. Dobby hanya sedang menghargai dirinya sendiri, kesetiaan dan pengabdiannya tidak layak bagi penyihir yang tamak. Dobby berhasil merobek label ‘peri rumah adalah budak’ yang ditempelkan oleh masyarakat sihir, ia tak peduli jika harus dicerca kaumnya sendiri para peri rumah.

Menurut saya peri rumah diciptakan JK.Rowling mewakili perbudakan tak kasat mata di sekitar kita, atau mungkin terlihat jelas namun pihak-pihak tertentu memilih untuk tutup mata lalu pelan-pelan menggiring opini publik. Peri rumah yang mengecam Dobby adalah gambaran dari manusia-manusia yang sebenarnya sadar bahwa ia telah dimanfaatkan dengan tidak adil namun menghibur diri dengan berharap mendapat pahala keikhlasan. Tinkerbell atau peri lainnya mungkin lebih cantik dan mengguggah dengan kisah petualangan khas film Disney atau Barbie. Namun Dobby mengajarkan saya kepada siapa loyalitas harus didedikasikan serta bagaimana memerdekakan dan menghargai diri sendiri.

Oya, sehubungan dengan percakapan di awal, minggu ini saya memutuskan jadi peri rumah yang merdeka. Meski tidak benar-benar merdeka dari pekerjaan rumah. Melelahkan pasti, namun menyelesaikannya dengan bahagia seperti peri rumah lebih baik daripada mengeluh dan murung seperti upik abu yang penuh derita.




 Mischief Managed


https://www.instagram.com/ikobook.popy/

You Might Also Like

0 comments